Kota Tanpa Tempat Sampah

Dari judulnya sudah nampak miris sebenarnya, tapi kenyataan itu yang menampar saya di kota dimana kini saya tinggal.

Tulisan ini terinspirasi dari kejadian suatu pagi saat saya dan suami saya sedang duduk manis menikmati bubur ayam untuk sarapan pagi.

Kejadiannya satu minggu yang lalu, tepatnya pada, Minggu (14/5/2018).

Sekitar jam 06.15 masih belum begitu ramai, karena hari libur, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu membawa tempat sampah dan sapu. Di tempat tersebut ada saya, suami saya, penjual bubur ayam dan seorang pembeli lainnya.

Tanpa diduga, ibu-ibu tersebut menuju pinggir jalan, kemudian menuangkan semua ini tempat sampah ke tepi jalan tersebut. Saya tersentak melihat kejadian tersebut. Dan seorang pembeli yang bersama saya dan suami saya pun menegur kelakuan ibu-ibu tersebut.

“Bu kenapa buang sampah disitu? “

Dan ibu tersebut hanya menjawab, “Biasanya juga disini, nanti juga ada yang menyapu! “

Sontak saya kaget dengan jawaban ibu tadi.

Kurang lebih seperti itu, karena faktor kamera saya yang tidak mumpuni jadi gambarnya seperti itu. Dan ketika ibu itu pergi, kemudian ada mobil lewat sampah yang sebagian plastik itu terbang tanpa arah dan tujuan.

Penampakan serupa pun tak jauh beda, sekitar 10 meter dari tempat saya tadi beli bubur ayam saya sempat mengambil gambar lainnya.

Ini di pinggiran jalan Raya Jakarta-Serang, dan yang membuat saya heran, sepanjang jalan ini tidak ada tempat sampah yang tersedia. Bisa dilihat di gambar.

Memang benar kata ibu-ibu tadi, akan ada orang yang menyapu jalan, karena sekirar jarak 20 saya berjumpa dengan beliau sedang menyapu dan tak sempat saya memotretnya.

Bersih, iya ini gambar setelah di sapu, dan akan kotor kembali setelah siang karena mau bagaimana lagi tidak ada tempat sampah.

Penampakannya akan berubah saat masuk bulan ramadhan dan menjelang idul fitri, karena banyaknya pedagang dan penjual yang datang otomatis sampah yang dihasilkan juga makin banyak, sampah yang didominasi oleh sampah plastik.

Apa saja dimulai dari diri kita, biasakan untuk tidak membuang sampah apapun sembarangan, karena dampaknya bukan hanya bagi kita tapi juga orang lain.

Itu di pinggir jalan raya, lain waktu akan saya ceritakan di lingkungan sekitar aliran sungai, dimana masyarakat mandi, mencuci, buang air dan buang sampah di sana.

Begitu lama tulisan ini tesimpan, baru hari ini sempat selesai. Semoga bermanfaat.
Iklan

15 JULI 2015, Hanya Soal Angka

15 Juli 2015,

Hari itu, 15 Juli 2015

Hanya soal angka, kenapa begitu? Tiga tahun.. Hanya soal angka yang tak banyak. Tak banyak memang, tapi bagiku penuh.

Apa hubungannya banyak dan penuh? Entahlah tapi bagiku 3 itu penuh. Dalam suatu hubungan apa sih yang paling orang harapkan?

Kasih sayang?

Cinta?

Antara keduanya saja aku tidaklah paham, bagaimana mendefinisikan bagaimana aku sayang dia dan bagaimana aku cinta dia dan juga mengapa aku cinta dia atau mengapa aku sayang dia?

Tiga Tahun

Tiga tahun, untuk yang udah senior mungkin bukan waktu yang lama! Bagiku juga demikian, tapi aku bukan termasuk senior.

Tiga tahun di lewati dengan perjuangan, berjuang untuk banyak hal, karena sebuah hubungan yang dinamakan pernikahan isinya sudah bukan lagi cuma cinta-cintaan dan apalah itu.

Berjuang di kota orang selama tiga tahun sebagai pasangan, jauh dari orang tua dan keluarga (yang dimaksud adalah aku) semuanya baru, dunia baru orang baru.

Berjuang bersama jauh dari orang tua, semua di usahakan berdua, semua diurus berdua.

Berjuang agar tetap sabar menerima cibiran dari kanan kiri, karena ketahuilah menikah tapi belum memiliki keturunan itu bisa dibilang ujian yang berat.

Berjuang saling menguatkan saling mengalah dan saling mendukung.

Karena apa?

Mungkin jawabanku cuma,

“karena Allah menuntunku untuk melakukan semua itu”

Teman Hidup

Teman?

Iya, dia menemani ku dan aku menemaninya, dia tau aku, dan aku tau dia!

Aku tempat dia berkeluh kesah, saat ada masalah dalam pekerjaan, atau saat temannya berulah.

Tak begitu berbeda, aku juga sama. Saat netizen komentar pedes, saat tulisan nggak publik, atau saat tulisanku kena bully, kemana tempatku cerita kalau bukan dia?

Tempat bertukar pikiran dan bertukar pendapat. Walau sering tak sependapat.

“Karena bersama tak harus sama”

Saling melengkapi dan saling mengisi, dua dunia yang berbeda di jadikan satu dan berjalan bersama.

Masa Demi Masa

Teman, iya!

3 tahun jadi teman satu sekolah, satu angkatan dan yang paling lucu adalah satu kelas!

2 tahun LDR dan kemudian akhirnya menikah.

3 tahun sudah berlalu pernikahan itu kita jalani berdua.

Jumlah semuanya tidak lah banyak berapa kita saling kenal, tapi jutaan kisah terlukis diantara jejak-jejak perjalanan kita.

Dari aku yang hanya anak ingusan hingga kini usiaku 24 tahun.

Saat menyelesaikan tulisan ini tertanggal 5 September 2018, usiaku baru saja bertambah pada 30 Agustus, ‘Happy Birth day to Me’

Tidak peduli kata orang, tentang aku atau dia, dulu atau juga sekarang.

Tuhan tau yang terbaik untuk kita, semoga kita jadi pasangan hingga di surga nanti.

Ketika Aku Tiba-tiba Pergi

Ketika aku tiba-tiba pergi

Aku masih ada, tapi aku diam

Aku masih disini, tapi aku memghindar

Kemarin setiap saat ada

Sekarang akhiri saja

Semua kian berbeda

Cerita hidupmu tak lagi aku pahami

Kehidupan mu,

Tak mampu aku mengerti

Jangan risau jika aku tiba-tiba pergi,

Wahai kawan.. Aku tak pernah membenci mu

Hanya saja, kau tau….

Aku memang tak sejalan lagi denganmu.

23/Mei/2018

Sebuah Perasaan yang Aneh

“Mi alhamdulillah aku positif”

Deg’ entah perasaan apa ini, saat teman tiba-tiba memberi kabar dia hamil.

Saya ikut senang (harusnya), nyatanya seperti ada gumpalan besar memenuhi dada, rasanya sesak, dan juga berat.

Lagi,

“Sampai kapan aku meriang kayak gini, makanan baru masuk keluar lagi”

Kalimat yang tampak biasa memang, tapi buat saya berbisik, ‘ya Rab kapan aku merasakan hal yang sama’ sampai nggak sadar nangis lagi.

“ya ampun dek, kamu lagi ngapain sih di perut mama, bikin mama nggak bisa tidur”

Seketika itu air mata jatuh, sembari membayangkan seperti apa rasanya itu, ada makhluk yang kita sebut janin di perut gerak-gerak, nendang-nendang.

“Alhamdulillah udah 5 weeks”

Aku cuma bisa klik like sambil ngelus perut, dan berbisik suatu hari insyallah.

Kata-kata itu sering banget saya lihat di sosial media.

Mungkin kalau yang nggak pernah ngrasain,pasti akan bilang,

‘Ah kamu mah lebay, si Anu ajah yang sekian tahun belum punya anak biasa ajah, kamu kan baru 3 tahun udah kayak gitu’

oke maunya saya Senyumin tapi nyatanya hati nyesek pengen ambil sandal masukin ke mulut yang ngomomg.

Tapi ini benar-benar saya alami selama tiga tahun belakangan, sebuah perasaan yang aneh, kenapa aneh?

Perasaan itu sangat aneh, sebuah perasaan yang nyesek dongkol pengen teriak pengen ngomel tapi cuma bisa diam dan nangis?

Cuma gara-gara, postingan orang

‘Alhamdulillah ya allah dua garis’

sambil ikutan foto tuh tespack.

Cuma kaya gitu doang bisa bikin nyesek dada penuh napas susah, pengen guling-guling teriak.

Harusnya saya maklumi yah, kalau ada yang kaya gitu, tapi kadang hati nggak bisa sama sekali di ajak kompromi.

Benar-benar sebuah perasaan yang aneh, dulu tidak pernah merasakan ini?

Apakah karena saya iri?

Kenapa saya menagis? Dan kenapa saya tidak bisa berusaha ikut berbahagia?

Kenapa saya?

Saya kenapa?

Bukan kah itu hak mereka untuk mengekspresikan kebahagiaan mereka?

Semoga doa dan harapan saya dan suami saya segera terkabul.

Saat salah satu teman saya bilang ‘Um si A katanya hamil’ dan bla ble blu bicara kesana kemari bahas kehamilan, tak perlu dijelaskan sudah tau bagaimana kelanjutan keadaan saya.

Terus si teman B curhat kehamilanya, meskipun saya sebenarnya tidak begitu nyaman membahasnya,

“Pagi makan muntah, mual terus akunya lemes, solusi donk!! Aku sekarang jadi kurus karena makanan nggak ada yang masuk, kasihan dedenya’

kalau pantas mah saya cuma jawab ‘OH’tapi saya tidak setega itu, dongkol sambil jawab A I U E O.

Tulisan mengurangi rasa sesak didada, mengurangi rasa sebel sama keluhan orang di media sosial, tulisan dari pada saya nulis di media sosial jadi si A si B sampe si Z tersinggung. Terus saya di ceramahi makin nyesek.

Berakhir Dengan Sama

Sebenarnya ingin ngepos pas 24 april lalu, tapi tertunda karena alasan yang aku sendiri tidak paham.

Selamat Ulang Tahun Suamiku.

Tepat 24 tahun lalu engkau dilahirkan, kau selalu bilang, ulang tahun tidak perlu dirayakan, oke aku sepakat dengan mu soal ini.

Tapi, bagiku ini adalah momentum memperingati betapa umur kita semakin bertambah, sejak setahun yang lalu apa hal baik yang sudah kita lalukan, atau apa hal buruk yang sudah kita lalukan?

Sudahkan kita menjadi pribadi yang lebih baik?

Doa dan harapan selalu dipanjatkan tiap kali bertambahnya umur, karena dengan bertambahnya umur, artinya berkurangnya jatah usia kita didunia.

Salah satu alasan mengapa tak mau merayakan ulang tahun.

Tapi sayang,

Dihari dimana kau dilahirkan 24 tahun lalu ini, aku ingin mengucapkan banyak doa dan harapan untukmu.

Bukan sekedar panjang umur, atau sehat selalu.

Tapi masih banyak lagi,

Semoga kau selalu menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Setiap usaha dan urusanmu selalu diberi kemudahan, semua doa yang baik bagimu.

Doa yang selalu sama setiap tahunnya, dan ada juga doa khusus sejak ulang tahunmu yang ke-22 dan ke 23 , semoga kau segera menjadi ayah.

Tanpa kado?

Tanpa kue?

Tanpa tiup lilin?

Mungkin ulang tahun identik dengan hal-hal demikian, tapi apa yang terpenting dari semua itu?

Teruntuk suamiku tercinta, hanya doa dan harapan yang aku berikan di hari ulang tahunmu, tapi ketahuilah aku selalu berusaha memberi lebih disetiap hari mu,

Barakallah Fi umrik Ai, semoga engkau selalu bahagia bersamaku.

Lulusan SMA

Lama nggak nulis kangen juga rasanya, kenapa judulya lulusan SMA?

Bukan mau kilas balik jaman SMA, hanya saja mau berbagi kisah.

Saya yang hanya lulusan SMA, saya nggak malu kok sekalipun hanya lulus SMA, saya termasuk beruntung karena masih banyak teman-teman kita diluar sana yang ingin sekolah tapi tidak punya kesempatan bersekolah seperti saya.

Waktu SD kalau ditanya cita-cita saya selalu nggak konsisten, kadang saya jawab ingin jadi presiden terus dilain waktu saya jawab ingin jadi polwan, tapi hobi saya menulis entah itu buku harian atau puisi bahkan menulis cerita, sama sekali nggak nyambung sama cita-cita.

Tapi setelah saya masuk SMA saya mulai memikirkan lebih jauh arah hidup saya, saya ingin kuliah dan menjadi guru.

Saya bermimpi bisa jadi anak kuliahan, punya banyak teman dan pengalaman baru.

Tapi takdir berkata lain saya harus puas hanya lulusan SMA, orang tua saya tidak sanggup kalau harus membiayai saya sekolah lagi, mungkin itu juga salah satu penyebab saya menikah muda?

Atau mungkin bukan?

Kelulusan SMA Diponegoro

Itu saya yang mana ya? Ada yang tau?

Foto lama belum ada yang punya kamera apa lagi hape bagus jadi gambarnya waw.

Saya disarankan oleh salah seorang guru saya untuk lanjut kuliah, hati saya juga berkata demikian. Tapi saya tidak cukup berani untuk sekedar jauh dari orang tua, niat saya setengah-setengah mungkin jadi tidak berbuah apapun, saya tipikal orang yang enggan meminta sesuatu yang saya pikir saya tidak dapat mendapatkannya apa lagi kepada orang tua, intinya saya sadar diri saja, dan sebatas mana kemampuan orang tua saya.

Percaya atau tidak teman SMA seangkatan saya hanya ada 31 orang dan hanya ada 1 siswa yang lanjut kuliah dan 1 siswi saja, alhamdulillah mereka sekarang sudah sarjana.

Buat yang masih kuliah semangat, dan yang udah selesai kalian sangat beruntung , saya juga sangat beruntung karena bisa sekolah.

Terima kasih mau baca curhatan saya.

24 April

Aku mencintaimu tanpa ragu

Sejak saat itu……

Saat dimana aku yakin akan perasaanku padamu

Ku buang satu demi satu kenangan, yang ku tau kelak meragukanku

Kuterima kesungguhanmu meminangku

Ku langkahkan kakiku bersamamu

Dan ku kan selalu ada bahkan saat kau terjatuh

Aku akan membangkitkanmu

Menggenggam tanganmu lebih erat

Sampai kau siap melangkah lagi…..